Di intip sunset dieng dari pucuk gunung prau (part-1)

Sudah rindu rasanya untuk kembali berpetualang. Di penghujung tahun ini terlintas dipikiran saya untuk melakukan kembali perjalanan bersama-sama teman. Semula tercetus ide untuk mendaki gunung Gede yang letaknya tidak jauh dari domisili kami. Namun, setelah kami booking untuk melakukan pendakian tersebut pada 30 desember 2013 ternyata jalur pendakian ditutup terakhir 29 desember 2013 praktis menggagalkan rencana kami. Karena sudah terlanjur mengambil cuti kerja pada 30-31 desember 2013 ini, sayang rasanya jika hanya dihabiskan di dalam rumah atau berkeliling dihiruk-pikuk kota saja. Berkat sebuah artikel yang saya baca dari sebuah website, membuat saya tertegun sejenak melihat foto-fotonya dan banyaknya wisata alam yg dapa di nikmati dari tempat ini. Dan saya pun mulai meracuni teman-teman untuk mengarahkan hatinya untuk melakukan perjalanan akhir tahun ini ke Gunung Prau.

Gunung Prau yang termasuk dalam Kawasan Dieng Plateu berada di perbatasan antar 3 kabupaten yaitu Wonosobo, Batang dan Kendal. Setelah membaca referensi transportasi dan jalur, kami memilih untuk melalui jalur terdekat dari wonosobo kemudian menuju Kawasan dieng dan memilih jalur trekking via patak banteng.
Tiba saatnya, hari itu sabtu tanggal 28 desember 2013 kami mulai disibukkan dengan ritual packing-packing. Menurut saya, ritual packing ini sangat penting sebelum melakukan perjalanan yang jauh, apalagi traveling ke gunung prau ini termasuk ke luar dari peradaban. Maka perlu diperhitungkan segala perlengkapan dan perbekalan yang harus kami bawa.

Pukul 18.00 WIB pasukan (*baca:teman-teman) 8 orang yaitu Reza, Ndo, Dabenk, Cemonk, Qubil, Bonay, Ima dan Saya sudah berkumpul. Rencana nya kami akan bertolak dari Kranji setelah Solat Magrib, sambil melengkapi dan merapihkan packing di keril. Perjalanan kami mulai dengan menggunakan angkot 05A meluncur ke terminal Bekasi dengan ongkos Rp 5.000,- per orang.

Sesampainya di terminal bekasi pasukan kami mencari tempat yang aman dahulu dari terkaman para calo. Dan kemudian saya dan Dabenk mulai mencari tiket bus menuju Wonosobo, berharap masih ada bus yang dapat mengantarkan kami sampai ke tujuan. Ternyata salah perkiraan kami untuk membeli tiket bus on the spot seperti sekarang ini, kondisi terminal saat itu ramai dengan penumpang yang akan menghabiskan liburannya di kampung halaman, maklum saja karena bertepatan dengan libur anak sekolah. Setelah muter-muter mencari PO terdengar oleh Dabenk ada seorang calo yg menawarkan tujuan Purwokerto. Bergegas saya dan Ndo sebagai bank berjalan kami mendekati loket yang menjual tiket tsb. Ke wonosobo dapat ditempuh jg melalui Purwokerto dengan menyambung kembali nantinya menggunakan bus kecil ¾. Tanpa pikir panjang bus yang bisa jadi satu-satunya menuju ke Purwokerto malam itu dari terminal Bekasi kami beli seharga Rp 100.000,- per orang. Memang agak mahal, tapi mau bagaimana lagi, kondisi terminal saat itu sedang ramai penumpang jadi siapa cepat dia dapat.

Pukul 21.00 wib bus yang kami percayakan untuk mengantar ke Purwokerto pun beranjak bertolak dari terminal Bekasi. Bus bantuan ber-merk ‘Kemang Pratama Feeder’ yang biasa mengantar dengan rute Kemang – Blok M. Bangku 3-2 terisi penuh depan sampai belakang dengan semburan AC yang dapat diberikan jempol dingin nya, seakan melatih tubuh kami dengan dekapan dingin hawa dieng nanti.

Sesampainya di terminal Purwokerto pukul 07.30 WIB tanggal 29 desember 2013. Belum juga menapakkan kaki dengan benar di terminal sudah beberapa calo mendekati dan menawarkan ke berbagai tujuan. Namun, saya memilih untuk bersantai-santai dulu diterminal dan tidak perlu terburu-buru karena banyak bus yang menuju wonosobo. Kami pun menyempatkan untuk bersih-bersih diri, cuci muka & buang hajat. Kemudian dilanjutkan dengan sarapan pagi dari bekal yang dibungkuskan untuk diperjalanan sebenarnya, tapi baru sempat kami buka dan beruntung masih bagus. Acara makan bersama di emperan terminal pun digelar. Selamat makannnn…

image

Pukul 09.30 WIB saya dan Reza mulai bergerak mencari bus wonosobo. Sebelum tawar menawar saya menanyakan pada pedagang warung kopi terlebih dahulu mengenai perkiraan ongkos bus menuju wonosobo. Menurutnya berkisar antara Rp 25.000 s/d 20.000 dan kemungkinan bisa Rp 20.000 per orang jika rombongan seperti kami ini. Dan kami pun mendapati bus ¾ dengan ongkos yg sesuai dikatakan pedagang tadi. Langsunglah kami pasukan rayap naik bus melanjutkan 2-3 jam perjalanan kembali.

Ada yang unik dari bus trayek Purwokerto – wonosobo ini, beberapa kali sang sopir mengangkat HP nya untuk berkordinasi dengan bus lain yang 1 trayek dan mengendarainya layaknya balapan F1. Hampir beberapa kali dibuat syok jantung yang membuat kami tidak dapat tidur dengan tenang.

Sekitar Pukul 11.30 WIB kami sampai di wonosobo, kita tidak turun di terminal. Langsung ditunggu oleh angkot Kuning yang rupanya sudah dikordinasikan dengan kenek bus ¾ tadi sepertinya. Tawar menawar harga, akhirnya disepakati lah dengan sang sopir angkot untuk mengantarkan kami sampai ke patak banteng dengan ongkos Rp 20.000 per orang. Lalu kami duduk manis kembali di angkot untuk melanjutkan kurang lebih 1 ½ jam perjalanan. Dan betapa terkejutnya ternyata sang sopir tidak tau basecamp patak banteng yang rencananya sebagai titik awal kami melakukan pendakian. Oh iya, sebagai informasi pasukan rayap 8 orang ini belum ada yang pernah ke gunung prau ini, hanya berdasarkan referensi artikel di internet dan banyak bertanya dengan penduduk sekitar.

Sampailah kami diantarkan ke pertigaan Dieng, yang menurut mas sopir memang biasa mengantarkan sampai di tempat ini untuk menuju ke sekitar wisata dieng. Sempat kebingungan sebenarnya kami disini. Reza dan Dabenk pun bertanya pada penduduk setempat juga beberapa orang setelan pendaki yang membawa keril. Dan ternyata basecamp patak banteng sudah terlewati. Namun, penduduk setempat dan pendaki tadi mengatakan bisa juga melalui jalur Dieng ini. Akhirnya kami memutuskan untuk turun dari angkot.

Sebelum memulai pendakian, saya, Ndo dan Ima berbelanja ria dulu untuk membeli makan siang dan perbekalan yang kurang. Tertujulah pada warung kecil yang menjajakan nasi campur dengan pilihan lauk yang khas dieng. Dan harap waspadai lauk yang menggunakan cabe-cabean, konon cabe dieng terkenal super pedas. Dibungkuslah 6 Nasi dan Lauk terpisah (kerupuk, kerang balado, ayam goring, tumisan sayur lupa namanya, dan ikan lupa namanya juga) seharga Rp 63.000,-. Setelah selesai berbelanja kami berjalan sedikit menuju sekolahan SMP Negeri 2 Kejajar yang menurut penduduk menjadi acuan jalur pendakian ke gunung prau.

Karena perut sudah mulai kelaparan maka sebelum masuk hutan di halaman Gedung SMPN 2 Kejajar ini pasukan rayap membongkar makanan yg dibeli tadi. Dan benar saja udang balado membuat beberapa dr kami kepedasan. 4 Bungkus nasi yang di bongkar tuntas sudah, lalu siap melakukan pendakian pada pukul 14.30 WIB saat itu.

image

Berjalan melewati perkebunan kentang milik penduduk, dengan cuaca yang cukup bersahabat. Terlihat jelas jalur yang kami lewati, melipir sedikit bukit, lalu melewati punggungan dengan berpatokan pada tower yang dapat dilihat menurut penduduk dengan catatan cuaca sedang bagus.

Setelah berjalan 30 menit kita akan menemukan gapura perbatasan vegetasi hutan dengan perkebunan. Sangat cantik terbuat dari susunan bambu-bambu. Kami menyempatkan berfoto-foto sejenak dan berpapasan dengan 2 orang ibu-ibu perkasa yang sedang menggendong kayu-kayu dan ranting. Pendakian kami lanjutkan dan tidak lama setelah 15 menit berjalan kami mendapati pos 1 dengan tempat duduk berbentuk L, kami pun menyempatkan duduk dan menyapa bertanya pendaki yang baru saja turun. Dan memang cukup jelas jalurnya. Sekitar 2 jam perjalanan perkiraan sampai di tower.

Setelah meracik minuman “Kuku Bim-Tiit (sensor)” perjalanan pun kami lanjutkan untuk mencapai pos 2 yang diperkirakan berjarak 1 jam berjalan normal/santai. Melipir melewati hutan pinus dan sesekali menanjak cukup terjal menguras keringat sehingga mengharuskan beberapa kali langkah ini terhenti. Tidak jauh selepas pohon pinus yang berdiri tegak tinggi berjajar rapi kami dipertemukan dengan pos 2. Disini kami menemukan percabangan jalur. Tergambar di plat kaleng yang menunjukkan ke kanan (menanjak) menuju puncak/pos 3 dan ke kiri (turun) menuju dieng. Pos 2 ini terdapat patok perbatasan antara 2 kabupaten wonosobo dan batang.

image

Tidak lama kami berhenti di pos 2 pukul 16.15 WIB saat itu lalu melanjutkan perjalanan ke pos 3 (tower pemancar yang dapat terlihat sekilas namun kemudian tertutup kabut. Semakin terjal jalur yang kami lalui, beberapa kali memaksa kami harus berhenti untuk menghela nafas. Sampai 30 menit berlalu menapaki anak tangga alam ini tiba lah di kumpulan tower repeater milik beberapa kabupaten dan radio.

Pukul 17.00 wib kira-kira saat itu menyempatkan sejenak untuk solat ashar dijamak juga dengan zuhur yg belum sempat kami lakukan tadi siang. Perjalanan pun kami lanjutkan dan Reza mendapati sepasang cowo-cowo, eh? Maksudnya 2 orang pendaki jantan yang mendirikan tenda tidak jauh dari tower. Kami pun menyempatkan ngobrol-ngobrol sejenak dan berfoto sesi. Dan kami mendapatkan petunjuk dari 2 orang tadi, untuk mencapai bukit teletubies (orang-orang menyebutnya begitu karena ada kemiripan dengan serial anak-anak tahun 2000an lalu itu) memerlukan 1 jam perjalanan, bergegas lah kami agar tidak terkena malam saat mendirikan tenda.

Cukup berkabut perjalanan sore itu, 30 menit berjalan kami terhenti di puncakan salah satu bukit. Saya dan Reza mencoba menyelidiki lembahan dibawah apakah dapat mendirikan tenda disana. Sementara yang lain menunggu sambil berfoto-foto menantikan sunset yang mulai mengintip dari gerombolan awan. Mencari-cari lokasi yang pas untuk bermalam saat itu dengan view bagus saat mata terbuka esok pagi. Saya dan Reza pun mendapati kalau lembahan itu yang dikatakan bukit teletubies. Kami pun mengambil keputusan untuk mendirikan tenda tempat dimana teman-teman menunggu tadi karena view nya dan efisiensi waktu turun kembali nanti melalui jalur itu lagi. Dari kejauhan pun saya meneriaki Dabenk dkk untuk membuka tenda. Beruntung kami saat itu cuaca sedang bersahabat. Mendapati sunset yang orange digumuli ombak awan. Sambil menahan dingin yang mulai menusuk kulit kami mendirikan tenda membuat nya senyaman mungkin.

image

Ada 3 tenda yang kami dirikan untuk 8 orang. Gelap pun semakin menyelimuti sekitar kami. Pasukan Rayap mencoba melakukan aksi masak2 nya. Menyempatkan saya menengok ke atas langit. Wow, luar biasa cerah saat itu, bintang-bintang bermunculan kelap-kelip. Sebentar saja menikmatinya diluar tenda karena angin cukup kencang saat itu yang membuat jari2 ini membeku rasanya. Kami tutup tenda lalu tidurrr… menyambut esok pagi semoga beruntung mendapati golden sunrise.
image

bersambung

Iklan
Categories: hiking, travelling | Tag: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: